minggu lalu gw nonton film
I know who killed me

yang maen lindsay lohan, so prety.. ga nyangka berani juga dia memamerkan….ehem ehem
ceritanya tentang seorang mahasiswi yang bernama aubrey,dia di culik dan disiksa dengan cara dipotong-potong tangannya dan kakinya. Dia menghilang tanpa ada yang tau kmn.
Ternyata dia punya kembarannya namanya Dakota Moss, pekerjaannya adalah “penari malem”,tb2 dari jarinya keluar darah smpe jarinya itu putus…diikuti sm jari2 yang laen smpe kakinya juga bgtu.
sepertinya sih stigmata gitu yah.

Dan cerita berikutnya adalah usaha pencarian aubrey yang hilang, yang ternyata (kayaknya, sepertinya guru les piano nya lah pelakunya),tapi yg bikin sebel ga diceritain disitu motif si pelaku.
Agak absurd deh pokoknya.

akhirnya bisa diselamatkan siy aubrey nya….
Bintang dua(**)deh untuk pilemnya

setelah kemaren dr jam dua siang gw ke 21 akhirnya jam setengah 7 malem gw baru bisa dapet kursi.

Laskar Pelangi bener2 film yang menyentuh hati, dan “nyentil” kita, bagaimana bisa dari kekurangan kita ternyata kita masih bisa menggapai impian kita, bagaimana bisa seorang anak kuli timah PN di pelosok pulau terpencil indonesia bisa kuliah di sorborne, perancis tempat belajaranya para ilmuwan dan penemu-penemu dunia .

dan juga ada anak yang namanya lintang, dia bener2 Genius…kemampuan matematikanya wowww….tp sayang bgt kenyataan dia harus jadi tulang punggung keluarganya harus menghentikan dia untuk menimba ilmu hanya smpe kelas 5 SD saja. Dan akhirnya setelah dewasa hanya menjadi tukangn apa gituh…
hiks ga adil…

But, awalnya gw duga filmnya akan se bagus bukunya….emang seh pilemnya bagus,mgk ga semuanya bisa digmbarkan dlm bentuk visual kali yah..dan ga bisa diceritain semuanya krn terlalu panjang…

i see, biarpun bgtu untungnnya gw dah nyiapin tissue yang gw bawa dr hari minggu yang semuala gw kira akan nonton film ini eh malah ntn film diatas yang absurd itu.
so guys, bagi yang ga suka ntn film indonesia, may be u must try this one…

menurut gw segh bintang 4 niy filmnya (****)LASKAR PELANGI THE MOVIE

Jumat, 13 Juni 2008 | 01:48 WIB

KERAS, dinamis, energetik, tapi ptet harmonis. Itu yang menjadi filosofi pelatih Kroasia, Slaven Bilic. Dia memang suka yang berbau keras dan dinamis. Itu pula sebabnya, dia membentuk band Rawbau. Grup band yang mengusung aliran heavy metal.

Gayanya pun tak ubahnya anak muda yang begitu lepas mengekspresikan apa saja. Lihat saja ketika Dario Srna dan Ivica Olic menjebol gawang Jerman yang dikawal Jens Lehmann. Dia melompat-lompat kegirangan dan teriak sekencangnya, seolah berada di atas panggung heavy metal.

Kroasia di bawah penanganannya memang cukup keras dan dinamis. Dia meminta para pemainnya untuk berusaha menguasai bola sebanyakk mungkin dan menekan lawan seketat mungkin. Inggris yang bertabur bintang ppun dibuat tak berdaya di babak penyisihan. Kini, Jerman juga dibuat kesulitan dan dipaksa kalah 1-2.

Dia seolah ingin memainkan melodi-melodi metal lewat sepakbola. Keras, ekspresif, dinamis, lepas-bebas, tapi tetap dalam kerangka harmoni.

Itu pula sebabnya, Kroasia begitu sulit ditaklukkan. Mereka selalu menekan lawan dengan keras. Mereka juga selalu menguasai bola sebanyak-banyaknya untuk bisa bebas memainkan melodi-melodi heavy metal dalam permainan.

Para pemain Kroasia menjadi bermain tanpa beban. Itu yang membuat mereka begitu mudah mengembangkan permainan. Dan, memang Slaven Bilic memberi kebebasan besar kepada para pemainnya, tapi tetap mengindahkan kepentingan tim dan kekompakan. Bahkan, dia termasuk pelatih yang berdisiplin keras.

Itu pula yang membuat Kroasia menjadi begitu iistimewa, meski keterampilan para pemainnya tak ada yang sangat menonjol. Mereka rata soal skill, tapi punya sengatan luar biasa saat bermain sebagai tim.

Kemenangan 1-0 dan 2-1 atas Jerman merupakan bukti kehebatan Kroasia. Sukses yang memastikan mereka lolos ke perempat final. Apalagi, sukses itu terajadi dengan mengalahkan Jerman.

Slaven Bilic semakin menjadi momok menakutkan buat Jerman. Pada Piala Dunia 1998, dia bertindak sebagai pemain buat Kroasia. Saat itu, timnya juga mempermalukan Jerman dengan kemenangan 3-0. Kini, dia mengulanginya lagi tamparan berat itu kepada Jerman.

Sebagai pelatih, dia semakin punya nama dan kelas. Wajar saja jika sebelumnya dia sudah masuk urutan kedua dalam rangking prestasi pelatih tim nasional, di bawah Dunga (Brasil). Dengan kesuksesan ini, rankingnya bisa saja naik.

Apalagi, Kroasia punya peluang untuk berprestasi bagus di Euro 2008. Jika pada Piala Dunia 1998 mereka menempati urutan ketiga, bisa jadi Kroasia di bawah Slaven Bilic menjadi paket kejutan seperti halnya Yunani di Euro 2004.

Metal, Man! (HPR)
pantesan gahar.

Tunggu pembalsan dr jogi yah Mr.bilic

Next Page »